Sabtu, 27 Desember 2008

Kota Medan Kehilangan Jati Diri

Saturday, 27 December 2008

MEDAN(SINDO) – Kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mulai kehilangan jati diri. Beragam kasus dan permasalahan tak pernah selesai hingga tutup akhir 2008 ini.


Kesimpulan itu muncul dalam diskusi panel refleksi akhir 2008 dan proyeksi 2009 dengan tema “Ketika Medan Mencari Jati Diri”yang diadakan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Medan di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik (FISIP),UniversitasSumatera Utara (USU),kemarin.


Pengamat politik dari USU Warjio menyatakan,beragam permasalahan yang muncul dan tidak pernah tuntas diselesaikan menjadikan Kota Medan kehilangan jati diri. “Kami sedang kehilangan jati diri. Sudah menjadi tugas bersama mengembalikan jati diri Kota Medan dengan slogannya, ’’Ini Medan, Bung’’. Bukan slogan, ’’Ini Baru Medan’’,”papar Warjio ketika menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut.

Warjio menilai ada kecenderungan perubahan budaya politik yang dimiliki masyarakat Medan yang cukup mengkhawatirkan. Tren angka golput (tidak memilih) yang semakin tinggi dalam pilkada menunjukkan masyarakat semakin apatis dan jenuh. Apalagi,hasil Pilkada Wali Kota Medan 2005 yang sebelumnya disambut antusias ternyata meninggalkan luka bagi masyarakat.Sebab,duapucuk pemimpin sekaligus ternyata harus terjerat kasus hukum.

“Pilkada Wali Kota Medan 2005 harus dijadikan pelajaran penting bagi kita untuk tidak mengulanginya lagi. Hal itu agar Medan mendapatkan kembali jati dirinya,” papar staf pengajar Ilmu Politik Fisip, USU,itu. Anggota DPRD Medan dari Partai Bulan Bintang (PBR) Yasni Rahmi mengakui persoalan paling krusial yang terjadi di Medan terutama mengenai tidak adanya rencana tata ruang kota.

Karena itu, banyak bangunan yang tidak sesuai peruntukannya dari segi kewilayahan. Namun, menjadi sebuah dilematis bagi Pemko Medan ketika ingin menertibkannya.

Sementara itu,Wakil Ketua DPD Partai Golkar Sumut Chaidir Ritonga menilai terbengkalainya pembangunan Kota Medan bukan sepenuhnya kesalahanPemkoMedan, melainkan karena komponen penunjang, terutama infrastruktur. “Seperti infrastruktur listrik dan fasilitas bandara yang belum memadai,”tandasnya. (m rinaldi khair)

Tidak ada komentar: