Minggu, 16 November 2008

CALEG

Oleh : Irwansyah

“Mau jadi anggota DPR? Boleh, asalkan dengar cerita ini.” Kata Kuntowijoyo. Dua kalimat itu merupakan kalimat pembuka cerpennya berjudul “Laki-laki yang Kawin dengan Peri”, salah satu dari tujuh belas cerpen pilihan Kompas 1995. Cerpen itu pula dijadikan judul bunga rampai cerpen itu.

Pak Kunto, kami mahasiswanya memanggilnya begitu, berpenampilan sederhana, murah hati, dan murah senyum. Tidak ada makalah kami jelek. Semua makalah kami mendapat pujian baik. Cuma ada yang kami tunggu dari Pak Kunto. Yaitu kata “tapi” dari mulut beliau. Sambil mengomentari makalah, “Tapi,” kata beliau, “kalau bagian ini ditambah” lalu beliau menyebut judul buku (bahasa Inggris), “kemudian bagian ini begitu juga ada rujukan untuk itu bukunya” lagi-lagi beliau menyebutkan sejumlah buku (lagi-lagi bahasa Inggris). Satu makalah yang dikomentarinya bisa sampai lebih dari dua puluh buku yang disebutnya dengan lancar. Yang lain khas Pak Kunto, yaitu kata “yaitu”. Saat menerangkan kata “yaitu…yaitu…” bagai peluru bertubi-tubi keluar dari mulut beliau. Iseng, teman saya menghitung dalam semenit ada 27 kata “yaitu…yaitu…yaitu” yang diucapkan Pak Kunto. Menurut saya, itu karena pikiran Pak Kunto tidak sejalan dengan ucapannya. Waktu dia sedang mengucapkan sesuatu, pikirannya sudah jauh meninggalkan mulutnya. Mulut dan pikirannya saling berkejaran. Cuma karena kata bergerak linier, maka kata “yaitu…yaitu…”lah yang muncul sebagai upaya mulut mengimbangi jalan pikirannya.

Pak Kunto hanya ucapannya saja tidak sejalan dengan pikirannya. Bukan ucapannya tidak sama dengan perbuatannya. Bukan seperti banyak orang yang tidak satu kata dengan perbuatan.

Masih mau juga jadi anggota DPR? Dengarkanlah cerita Pak Kunto.

Alkisah ada laki-laki tanpa keluarga bernama Kromo Busuk. Pada mulanya dia tinggal tenteram di sebuah desa. Ketenteraman terganggu sejak tetangganya bermenantu orang luar desa. Menantu tetangganya itulah biang kerok huru-hara penyebab penduduk desa menuduh Kromo berbau busuk.

Tuduhan itu bermula pada malam pengantin. Laki-laki itu menuduh istrinya bau busuk karena belum mandi dari pagi. Si istri bersumpah untuk menghadapi malam pertama itu sengaja dia mandi pakai sabun paling wangi. Tuduhan beralih pada ayah mertua. Ayah mertua tersinggung. Lebih baik tidak usah punya menantu kalau begitu. Beralih ke ibu mertua. Sumber bau bukan dari perempuan itu. Karena bau tidak juga hilang dari penciuman si menantu, tuduhan beralih ke tetangga dekat. Ayah mertua naik darah. Tiba-tiba datang orang dari Poskamling. Selidik punya selidik ketahuanlah sumber busuk berasal dari Pak Kromo.

Kromo yang tahu diri pindah ke pinggir desa. Meskipun Kromo sudah tinggal di pinggiran desa bau busuk tidak juga hilang. Akibatnya desa jadi seperti sarang hantu. Para gadis desa tidak laku. Pencuri berkeliaran malam hari. Malam bulan purnama juga sepi. Kromo bila malam hari pindah tidur di tengah sawah berbatu yang tidak dikerjakan orang karena angker. Satu malam tiba-tiba seorang wanita cantik menemui Kromo. Malam berikutnya Kromo kawin dengan wanita cantik itu. Orang coba mengintai Kromo. Mereka kehilangan jejak di sawah berbatu. Begitulah yang terjadi. Bila Kromo kesiangan, orang menemukannya sedang mendekap batu. Herannya bau tidak juga hilang. Suatu malam dua orang berkuda datang ke gardu ronda. Bertanya kenapa orang desa menghina Kromo padahal dia orang baik-baik. Penunggang kuda itu menghilang. Bau wangi segera menyebar tercium dimana-mana. Tahulah mereka Kromo sudah meninggal dunia. Jenazahnya raib dibawa ke dunia lelembut. Tiba-tiba warga desa merasa kehilangan Kromo. Sebagian merasa berdosa telah menyengsarakannya.

Kemudian terjadilah pageblug, wabah epidemi melanda desa. Pagi sakit, sore mati. Tidak pilih usia: balita, remaja, dan manula kena. Ibu-ibu kehabisan air usu. Segala usaha dicoba untuk menolak bala. Datanglah seorang kyai. Kata kyai warga kurang bersyukur dan bersedekah. Orang desa sepakat mengadakan kenduri dan mengaji layaknya menghormati orang yang sudah meninggal. Cerita menghilangnya Kromo simpang siur. Ada yang bilang dia sudah jadi pengawal istana di dunia peri. Ada yang bilang pernah berjumpa mengajaknya pulang. Kromo tidak bisa kembali ke dunia karena dia sudah terikat dengan “kontrak perkawinan”.

“Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun”. Kuntowijoyo menutup cerpennya dengan dua kalimat itu.

Masih mau juga jadi anggota DPR? Sandek (pesan pendek) Pak Kunto: boleh saja, tapi jangan sakiti wong cilik. Yang ngibuli wong cilik biasanya kan wong cilik. Sekedar bekal tambahan dari muridnya. Bila jemaah calhaj (calon haji) kita banyak yang mengidap penyakit resiko tinggi (reski), maka jadi caleg termasuk reski. Sebab, pepatah “arang habis besi binasa” tergelincir jadi “uang habis hutang menanti pula”.

TMI, 14 Nopember 2008

Penulis adalah Dosen Fakultas Sastra USU

Tidak ada komentar: